jangan
coba melangkah kepelajaran yang ini dulu tunggu sampai antum semua ini udah
faham peride 1 hingga peride 9 baru antum baca pelajaran Bahasa Arab Dasar 10:
Isim Mufrod Dan Mutsanna Salam Dari Ana Habib Abdullah Bin Agil ana doakan kalian menjadi Orang yang Alim dan Allamah Sehingga Membawa manfaat pada ummat
Bahasa Arab Dasar 9: Syibhul Jumlah = Menyerupai Kalimat
Syibhul Jumlah: adalah rangkaian
kata(tersusun dari dua kata atau lebih) yang mirip dengan kalimat(jumlah)
namun ia bukan kalimat(jumlah) karena tidak memenuhi kaedah yang sempurna.
Syibhul jumlah terbagi
atas dua kelompok(susunan) :
1. Susunan Harful Jer dan Isim =
حَرْفُالجَرِِّاِ + اِسْم
2. Susunan Zhorof
dan Isim = ظَرْفٌ +اِسْم
Keterangan:1.
Susunan Harful Jer dan Isim = حَرْفُالجَرِِّاِ + اِسْم
Contoh: مِنَالسُوْقِ
مِنَالسُوْقِ ~ minas suuqi terdiri dari Harful
Jerمِنَ
~min = dari dan Isimالسُوْقِ~assuuq = pasar. Disebut juga dengan
susunan Jer dan Majrur (جَرٌّوَمَجْرُوْرٌ .)
مِنَالسُوْقِ~ minas suuqi = dari pasar,merupakan
Susunan Syibhul Jumlah.
مِنَ
~ min = dari, Harful Jer (Huruf Jer)
السُوْق
~ As-suuq = pasar yaitu Isim, terdapat ciri Isim diawal kata Alif dan
Lam.
Isim setelah Huruf
Jer yaituالسُوْق ~ As-suuq berakhiran kasrah.
inilah yang disebut Isim Majrur.
Keterangan2. Susunan
Zhorof dan Isim = ظَرْفٌ + اِسْم
Contoh :أمَامَالمَنْزِلِ
أمَامَالمَنْزِلِ ~ amaamal manzili terdiri dari Zhorof أمَامَ ~amaama = di depan dan Isimالمَنْزِلِ ~al-manzili = rumah. Disebut juga dengan
susunan Zhorof dan Majrur (ظَرْفٌوَمَجْرُوْرٌ).
أمَامَالمَنْزِلِ~ amaamal-manzili = di depan rumah,merupakan susunan Syibhul Jumlah
أمَامَ ~ Amaama
= di depan, Zhorof
المَنْزِلِ ~ Al-manzili = rumah yaitu Isim terdapat ciri Isim
diawal kata Alif dan Lam.
Isim setelah
zhorof أمَامَ~ amaama yaitu المَنْزِلِ~ al-manzili berakhiran kasrah.
ini disebut dengan Isim Majrur.
Catatan:
ظَرْفٌ~ Zhorof;
adalah kata yang digunakan untuk menunjukkan keterangan waktu atau tempat;
Contoh: 1
أمَامَ~ amaama = di depan
وَرَاءَ~ waraa-a = di belakang
Zhorof أمَامَ
dan وَرَاءَ disebut dengan ظَرْفُالْمَكَانِ~ Zhoroful-makani = Zhorof keterangan tempat.
Contoh: 2
بَعْدَ~
ba'da = sesudah
قَبْلَ
~ qabla = sebelum
Zhorof بَعْدَdan قَبْلَdisebut dengan ظَرْفُالزَّمَانِ~ Zhorofuz-zamaani = Zhorof keterangan waktu.
Apabila kita
memperhatikan contoh susunan ke-1kita akan
mendapatinya tersusun dari dua kata,
yang
pertamaالبُسْتَانُdan kedua جَمِيْلٌ.
Jika kita
mengambil kata
yang pertama
saja yaitu البُسْتَانُ
"taman",
maka kita tidak
memahami
kecuali makna
tunggalnya saja
dan pastilah
orang yang diajak bicara tidak merasa cukup (faham dan akan bertanya lagi,
bagaimana
البُسْتَانُ taman itu?)begitu juga jika kita ambil kata
kedua saja البُسْتَانُ"Indah".
Akan tetapi jika kita rangkai salah satu dari dua kata
itu dengan kata yang lain
sebagaimana
yang tercantum dalam susunan contohan kita ucapkan " البستان جميل(taman itu indah) maka kita dapat memahaminya dengan makna yang sempurna.
dan kita bisa
mengambil faidah dari kalimat itu, yaitu mensifati "al-Bustan/taman"
dengan sifat "Al-Jamaal/indah"
Oleh karena itu
kalimat seperti ini disebut sebagai JUMLAH MUFIDAH (Kalimat yang
berfaidah/mempunyai faidah)
Dan
setiap kalimat yang tersusun dari dua kata seperti ini, maka ia termasuk ke
jumlah mufidah begitupun dengan contoh-contoh sisanya (5 contoh sisanya).
Dengan ini kita
bisa melihat bahwa satu kata saja tidak akan cukup (untuk digunakan) dalam
percakapan (maksudnya dengan satu kata saja maka tidak akan mencukupi bagi
lawan bicara untuk memahami kontekstual kalimat yang dimaksud)
kita akan
mendapatinya tersusun dari dua kata, yang pertama البُسْتَانُdan kedua جَمِيْلٌ.
فإذا أخذنا الكلمة الأولي وحدها وهي : " البستان
" لم نفهم إلا معني مفرداً لا يكفي للتخاطب ،
Jika kita
mengambil kata yang pertama saja yaitu "taman", maka kita tidak
memahami kecuali makna tunggalnya saja dan pastilah orang yang diajak bicara
tidak merasa cukup (faham dan akan bertanya lagi, bagaimana taman?)
وكذلك الحال إذا أخذنا الكلمة الثانية وحدها وهي :
" جميل "
begitu juga
jika kita ambil kata kedua saja "Indah".
ولكنا ، إذا ضممنا إحدى الكلمتين إلي الأُخرى علي النحو
الذي في التركيب ،
Akan tetapi
jika kita rangkai salah satu dari dua kata itu dengan kata yang lain
sebagaimana yang tercantum dalam susunan contoh
وقلنا " البستان جميل " فهمنا معني كاملاً ،
dan kita
ucapkan " البستان جميل(taman itu indah)
maka kita dapat memahaminya dengan makna yang sempurna.
واستفدنا فائدة تامة ، وهي اتصاف البستان بالجمال
dan kita bisa
mengambil faidah dari kalimat itu, yaitu mensifati "al-Bustan/taman"
dengan sifat "Al-Jamaal/indah"
ولذلك يسمى هذا التركيب جملةً مفيدةً ،
Oleh karena itu
kalimat seperti ini disebut sebagai JUMLAH MUFIDAH (Kalimat yang
berfaidah/mempunyai faidah)
وكل واحدٍ من الكلمتين تعد جزءً ا من هذه الجملة وهكذا
يقال في الأمثلة الباقية .
Dan setiap
kalimat yang tersusun dari dua kata seperti ini, maka ia termasuk ke jumlah
mufidah begitupun dengan contoh-contoh sisanya (5 contoh sisanya).
وبهذا نري أن الكلمة وحدها لا تكفي في التخاطب ،
Dengan ini kita
bisa melihat bahwa satu kata saja tidak akan cukup (untuk digunakan) dalam
percakapan (maksudnya dengan satu kata saja maka tidak akan mencukupi bagi
lawan bicara untuk memahami kontekstual kalimat yang dimaksud)
Contoh yang
lain
زَيْدٌ
مَِرْيضٌ
رَجَعَ
زَيْدٌ
Adapun susunan
kata yang tidak memberikan faedah yang sempurna tidak dinamakan sebagai Jumlah
Mufidah.
Contoh:
إِنْ
رَجَعَ زَيْدٌ
إِنْ
رَجَعَ زَيْدٌ فَأَكْرِمْهُ
Jumlah Mufidah
Jumlah ismiyah
adalah jumlah yang diawali dengan isim
Contoh:
زَيْدٌ
مَِرْيضٌ
عبد
الله اُستَاذُ
Jumlah fi’liyah
adalah jumlah yang diawali dengan fi’il