Rabu, 28 September 2016

Bahasa Arab Dasar Peride 8: Jumlah Mufidah




Daftar Isi Pelajaran

_____________________________________


Pada Periode kali ini kita akan membahas
 tentang Aljumlah Almufidah


Kita sudah membahas tentang huruf
 kita sudah membahas tentang al kalimah atau kata
  sekarang kita masuk ke pembahasan
tentang  Aljumlah Almufidah
jumlah Almufidah yang dikenal juga dengan alkalam
yang dimaksud dengan jumlah mufidah
 adalah Susunan kata yang dapat
memberikan Faidah yang sempurna

maksudnya
Jadi dia terdiri dari dua kata atau lebih
yang dapat memberikan faidah yang Sempurna
maksudnya apabila kita membuat
susunan 2 kata atau lebih kemudian
kita Ucapkan orang yang mendengarnya
         tersebut sudah paham


memberikan faidah yang sempurna contoh misalnya 
البُسْتَانُ جَمِيْلٌ
1. Taman itu bagus
الشَّمْسُ طَالِعَةٌ
2. Matahari terbit
شَمَّ عَلِيٌّ وَرْدَةً
3. Ali Mencium Bunga Mawar
قَطَفَ مُـحَمَّدٌ زَهْرَة
4. Muhammad memetik bunga
يَعِيْشُ السَّمَكُ فِي الْمَاءِ
5. Ikan hidup di dalam air
يَكْثُرُ النَّخِيْلُ فِي مِصْرَ
6. Pohon kurma banyak di Mesir



Apabila kita memperhatikan contoh susunan ke-1  kita akan mendapatinya tersusun dari dua kata,
 yang pertama البُسْتَانُ dan kedua جَمِيْلٌ. 
Jika kita mengambil kata
yang pertama saja yaitu  البُسْتَانُ "taman",
maka kita tidak memahami
kecuali makna tunggalnya saja


dan pastilah orang yang diajak bicara tidak merasa cukup (faham dan akan bertanya lagi,
bagaimana  البُسْتَانُ taman itu?) begitu juga jika kita ambil kata kedua saja البُسْتَانُ "Indah".
 Akan tetapi jika kita rangkai salah satu dari dua kata itu dengan kata yang lain
sebagaimana yang tercantum dalam susunan contoh an kita ucapkan " البستان جميل (taman itu indah) maka kita dapat memahaminya dengan makna yang sempurna.
dan kita bisa mengambil faidah dari kalimat itu, yaitu mensifati "al-Bustan/taman" dengan sifat "Al-Jamaal/indah"


Oleh karena itu kalimat seperti ini disebut sebagai JUMLAH MUFIDAH (Kalimat yang berfaidah/mempunyai faidah)
 Dan setiap kalimat yang tersusun dari dua kata seperti ini, maka ia termasuk ke jumlah mufidah begitupun dengan contoh-contoh sisanya (5 contoh sisanya).

Dengan ini kita bisa melihat bahwa satu kata saja tidak akan cukup (untuk digunakan) dalam percakapan (maksudnya dengan satu kata saja maka tidak akan mencukupi bagi lawan bicara untuk memahami kontekstual kalimat yang dimaksud)
البُسْتَانُ جَمِيْلٌ
1. Taman itu bagus
الشَّمْسُ طَالِعَةٌ
2. Matahari terbit
شَمَّ عَلِيٌّ وَرْدَةً
3. Ali Mencium Bunga Mawar
قَطَفَ مُـحَمَّدٌ زَهْرَة
4. Muhammad memetik bunga
يَعِيْشُ السَّمَكُ فِي الْمَاءِ
5. Ikan hidup di dalam air
يَكْثُرُ النَّخِيْلُ فِي مِصْرَ
6. Pohon kurma banyak di Mesir
اَلْبَحْثُ :
PEMBAHASAN
إذا تأملنا التركيب الأول
Apabila kita memperhatikan contoh susunan ke-1
وجدناه يتركب من كلمتين ، إحداهما " البُسْتَانُ" والثانية " جَمِيْلٌ "
kita akan mendapatinya tersusun dari dua kata, yang pertama البُسْتَانُ dan kedua جَمِيْلٌ.
فإذا أخذنا الكلمة الأولي وحدها وهي : " البستان " لم نفهم إلا معني مفرداً لا يكفي للتخاطب ،
Jika kita mengambil kata yang pertama saja yaitu "taman", maka kita tidak memahami kecuali makna tunggalnya saja dan pastilah orang yang diajak bicara tidak merasa cukup (faham dan akan bertanya lagi, bagaimana taman?)
وكذلك الحال إذا أخذنا الكلمة الثانية وحدها وهي : " جميل "
begitu juga jika kita ambil kata kedua saja "Indah".
ولكنا ، إذا ضممنا إحدى الكلمتين إلي الأُخرى علي النحو الذي في التركيب ،
Akan tetapi jika kita rangkai salah satu dari dua kata itu dengan kata yang lain sebagaimana yang tercantum dalam susunan contoh
وقلنا " البستان جميل " فهمنا معني كاملاً ،
dan kita ucapkan " البستان جميل (taman itu indah) maka kita dapat memahaminya dengan makna yang sempurna.
واستفدنا فائدة تامة ، وهي اتصاف البستان بالجمال
dan kita bisa mengambil faidah dari kalimat itu, yaitu mensifati "al-Bustan/taman" dengan sifat "Al-Jamaal/indah"
ولذلك يسمى هذا التركيب جملةً مفيدةً ،
Oleh karena itu kalimat seperti ini disebut sebagai JUMLAH MUFIDAH (Kalimat yang berfaidah/mempunyai faidah)
وكل واحدٍ من الكلمتين تعد جزءً ا من هذه الجملة وهكذا يقال في الأمثلة الباقية .
Dan setiap kalimat yang tersusun dari dua kata seperti ini, maka ia termasuk ke jumlah mufidah begitupun dengan contoh-contoh sisanya (5 contoh sisanya).
وبهذا نري أن الكلمة وحدها لا تكفي في التخاطب ،
Dengan ini kita bisa melihat bahwa satu kata saja tidak akan cukup (untuk digunakan) dalam percakapan (maksudnya dengan satu kata saja maka tidak akan mencukupi bagi lawan bicara untuk memahami kontekstual kalimat yang dimaksud)


Contoh yang lain   


زَيْدٌ  مَِرْيضٌ

رَجَعَ  زَيْدٌ   

Adapun susunan kata yang tidak memberikan faedah yang sempurna tidak dinamakan sebagai Jumlah Mufidah.
Contoh:
إِنْ رَجَعَ زَيْدٌ
إِنْ رَجَعَ زَيْدٌ فَأَكْرِمْهُ
Jumlah Mufidah
Jumlah ismiyah adalah jumlah yang diawali dengan isim
Contoh:
زَيْدٌ مَِرْيضٌ
 عبد الله اُستَاذُ
Jumlah fi’liyah adalah jumlah yang diawali dengan fi’il
Contoh:
ذَهَبَ زَيْدٌ
رَجَعَ زَيْدٌ

Dengarkan Kajian:


Minggu, 18 September 2016

Bahasa Arab Dasar 7: Idhofah

Daftar Isi Pelajaran

_____________________________________

 

 

Pada kesempatan ini, kita akan membahas salah satu istilah dalam bahasa Arab yang dikenal dengan 

AL-IDHOOFAH (اَلإِضَافَةُ). 

Yang dimaksud dengan al-idhoofah adalah bentuk penyandaran antara satu kata dengan kata yang lain. Untuk memperjelas dari definisi ini, kita perhatikan contoh kalimat : 

RASUULULLAAHI (رَسُوْلُ اللهِ).

Kita perhatikan, RASUULULLAAHI

tersusun dari dua buah kata, yaitu Rasul dan Allah, 

yang mempunyai arti: UTUSAN ALLAH.

Dari contoh ini, kata RASUL sebagai kata yang pertama dan berarti UTUSAN.

Kita ingin lebih mengkhususkan artinya lagi, maksudnya, utusannya siapa? atau utusan dari siapa?

Kalau begitu, untuk memperjelas maksud yang diinginkan, maka kata RASUUL harus kita sandarkan pada kata yang lain. Jadi, jika yang kita maksudkan bahwa RASUUL itu adalah Rasuul-nya Allah atau Utusannya Allah, maka RASUUL kita sandarkan pada lafadz ALLAAH sehingga menjadi 

RASUULULLAAH (رَسُوْلُ اللهِ). 

Susunan kalimat yang demikian inilah dalam bahasa Arab kita sebut

AL-IDHOOFAH (اَلإِضَافَةُ).

Secara rinci bisa dijelaskan sebagai berikut:

Kata yang pertama, RASUUL, disebut sebagai

MUDHOOF (مُضَافٌ)

yaitu kata yang DISANDARKAN pada kata yang lain.

Kemudian, kata yang kedua adalah Lafdzul Jalallah ALLAAH. Kata yang kedua ini dikenal dengan istilah

MUDHOOFUN ILAIHI (مُضَافٌ إِلَيْهِ)

 atau kata yang DISANDARI.

Jadi, mudahnya bisa dikatakan bahwa yang disebut Susunan Idhofah itu adalah kalimat yang terdiri dari dua kata, yaitu kata pertama Mudhoof dan kata yang kedua adalah Mudhoofun Ilaihi.

Untuk lebih jelasnya, kita lihat contoh yang lain, misalnya:

- KITAABUL USTADZI (كِتاَبُ الأسْتا ذِ) = Bukunya (milik) Ustadz itu.

Kalimat ini terdiri dari dua kata, yaitu KITAABU (mudhoof) dan AL-USTAADZU (mudhoofun ilaihi).


Dari penjelasan di atas, ternyata susunan kalimat idhofah ini mempunyai ketentuan umum, yaitu:

1. Mudhof tidak boleh ditanwin (walaupun tidak ada ALIF & LAAM)

2. Mudhof ilaih biasanya berharokat akhir kasroh;

3. Mudhof dan mudhof ilaih kedua-duanya merupakan isim.


Dengarkan Kajiannya 


Jumat, 16 September 2016

Bahasa Arab Dasar 6: Catatan Beda Isim Fi’il

 

                                      Daftar Isi Pelajaran

         ______________________________________

 

Catatan Perbedaan Isim dan Fi’il:

  

  1. Huruf tidak ada ciri khusus. Untuk mengetahuinya harus dihafal.

  2. Suatu kata sudah cukup dikatakan sebagai isim atau fi’il apabila telah menerima salah satu dari tanda di atas.

  3. Pada ciri isim, antara tanda “tanwin” dan “alif lam” tidak akan pernah bertemu.

Untuk fi’il, seringkali ciri-cirinya tidak disebutkan. Cara praktis untuk mengetahuinya adalah dengan menghafal ciri isim dan menghafal macam-macam huruf. Apabila tidak termasuk isim maupun huruf berarti dia termasuk fi’il.

 

 

 

Dengarkan Kajian:

Rabu, 14 September 2016

Bahasa Arab Dasar 5: Ciri-Ciri Fi’il

                                            

                                Daftar Isi Pelajaran

         ______________________________________ 


Ciri-Ciri Fi'il - عَلاَمَاتُ الْفِعْلِ

a. Qad
~
قَدْ  = sungguh, kadang-kadang, hampir
Apabila suatu kata didahului oleh
Qad ~ قَدْ  maka kata tersebut Fi'il.


Firman Allah dalam surah Al-Baqorah ayat 60;


قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ

"Sesungguhnya setiap suku telah mengetahui tempat minumnya masing-masing".  Al-Baqorah: 60
'Alima ~ عَلِمَ didahului oleh Qad ~قَدْ , maka عَلِمَ~ 'Alima  adalah Fi'il.

b
.
  Assiyn ~
اَلسِِّيْنُ =>  Sa~
سَـ  
Apabila suatu kata didahului  oleh 
سَـ ~ Sa = akan maka kata tersebut adalah Fi'il.


Firman Allah dalam surah Ath-Thalaaq ayat 7;
 سَيَجْعَلُ اللهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
"Allah akan menjadikan setelah kesulitan itu kemudahan". Ath-Thalaaq:7

سَيَجْعَلُ ~ Sayaj'alu didahului dengan huruf  سَ ~ Sa, maka يَجْعَلُ ~ yaj'alu adalah Fi'il.

c. Saufa ~ سَوْفَ :
Kata yang didahului oleh
سَوْفَ ~ Saufa adalah Fi'il


Firman Allah dalam surah At-Takaatsur ayat 4;

كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ
"Janganlah demikian, kelak kamu akan mengetahui". At-Takaatsur:4

تَعْلَمُوْنَ ~ ta'lamuun didahului oleh  سَوْفَ ~ Saufa maka kata تَعْلَمُوْنَ ~ ta'lamuun adalah Fi'il.


d. Ta' yang disukun ~تْ (Ta' Ta'nits As-saakinah ~ تَاءُ التَأْنِيْث ِالسَاكِنَةُ)

Ta' yang disukun digunakan untuk jenis yang perempuan. Ta' ini diletakkan pada akhir suatu kata.


Firman Allah dalam surah Maryam ayat 18;

قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَـنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيًّا

"Maryam berkata:  sesungguhnya aku berlindung kepada Arrahman darimu jika kamu termasuk orang yang bertaqwa". Maryam: 18


قَالَتْ  di akhiri oleh تْ ~ Ta' yang disukun (Ta' Ta'nits As-saakinah ~ تَاءُ التَأْنِيْث ِالسَاكِنَةُ) maka kata قَالَ ~  adalah Fi'il.